REALITA PERTEMUAN BUDAYA - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Sabtu, 26 Juli 2014

REALITA PERTEMUAN BUDAYA

Kumpulan MateriSeiring mengecilnya dunia akibat globalisasi kapitalisme dan perkembangan teknologi informasi, maka kemungkinan bertemunya antar orang – orang dari berbagai belahan dunia semakin besar pula. Pertemuan yang tidak harus secara real fisik melainkan dapat melalui media – media simbolik transmisioner semacam: telepon, televise atau internet. Pertemuan yang tidak mungkin dihindari jika masih ingin exsist daripada mengambil pilihan lain yaitu menghindar (withdrawl) dan kemudian tertinggal lalu terpuruk pada akhirnya. Pertemuan yang bukan hanya antar orang – perorang semata, melainkan sesungguhnya juga pertemuan antar budaya.

Akibatnya adalah persoalan benturan budaya semakin mengemuka. Persoalan yang tidak sekedar menuntut perpecahan melainkan lebih pada pemahaman dan kesadaran: akan keberagaman budaya yang membawa pada kemampuan: beradaptasi, menerima perbedaan, membangun hubungan yang luas, mengatasi konflik interpersonal, dan memenangkan globalisasi.

Diakui hubungan antar budaya adalah suatu tantanga besar bagi manusia. Di dalamnya terdapat kepastian akan adanya perbedaan yang kadang menyakitkan terutama ketika dihadapkan pada pengambilan keputusan dan kepastian akan kemungkinan mengalami konflik serta keharusan menerima perbedaan. Contoh yang sangat kecil saja, di dalam budaya Jawa memberikan sesuatu kepada siapapun terutama kepada orang yang lebih tua dengan menggunakan tangan kiri adalah hal yang sangat tidak sopan. Sebaliknya hal ini sendiri bukanlah suatu hal yang bernilai bagi orang – orang dari budaya barat. Selanjutnya menjadi persoalan ketika orang Jawa pergi ke Eropa dan pada suatu ketika si anak penjual korang memberikan korannya dengan tangan kiri. Disinilah kemungkinan konflik muncul dan menuntut kesadaran akan perbedaan budaya.

Disisi lain tantangan tersebut sesungguhnya juga memberikan kesempatan besar bagi umat manusia. Kesempatan untuk menambah wacana sekaligus mengaktualisasikan potensi dan keunikan masing – masing. Kesempatan untuk menampilkan warna masing – masing dan membuat lebih indah taman dunia dengan bunga yang beraneka warna.

Namun demikian untuk dapat menemukan kesempatan tersebut mensyaratkan adanya keberanian membuka diri sekalipun keberanian dan kejujuran untuk melihat diri dan budaya sendiri. Ketakutan, kekolotan, dan seringkali kesombongan diri yang kaku, merasa budaya sendiri yang benar (ethnocentrism) kadang yang malah muncul dan menghalangi penilaian diri yang jujur yang ujungnya menghambat diri untuk maju.

Sangat mungkin menghadapi kepastian konflik tersebut, ada individu yang lebih memilih menghindari konflik dengan jalan menghindari pertemuan dengan individu dari latar budaya lain dan sebaliknya memilih hanya berdiam dalam kelompoknya (In his own cultural group). Dengan hanya bergaul dan mengembangkan eksistensi diri pada kelompoknya sendiri member individu tersebut rasa aman, terhindar dari kesulitan adaptasi karena sudah adanya kesamaan identitas dan lepas dari kemungkinan konflik karena tidak ada perbedaan kebiasaan. Namun dengan mengembangkan hidup hanya pada satu kelompok sesungguhnya malah berarti membeda – bedakan diri dan menjadikan orang lain semakin berbea dan hal ini pada dasarya malah menciptakan kemungkinan konflik lain semakin berbeda dan hal ini pada dasarnya malah menciptakan kemungkinan konflik yang lebih besar. Selain itu individu tersebut juga akan kehilangan banyak informasi serta wacana baru yang menjadi kunci untuk exist di dunia yang tak pernah berhenti berubah ini. Terlebih penting individu itu kehilangan kesempatan untuk belajar dan beraktualisasi diri yang lebih baik. Maka dari itu, kesadaran yang disertai keberanian untuk menerima perbedaan adalah hal yang jauh lebih indah dan menjadi satu – satunya syarat untuk melangkah maju tanpa memaksakan diri untuk menjadi seragam.

Dengan keberanian untuk membuka diri hubungan dengan banyak manusia dari berbagai macam budaya, berarti kita mengembangkan diri, mendapat banyak wacana baru, menambah lebih banyak saudara ataupun relasi, dan itu berarti membuka pintu kesempatan. Membuka diri memiliki makna mau memehami orang lain, menerima budaya lain, dan siap untuk berbeda (Johnson, 1993).

Pemaparan di atas memberikan gambaran ringkas betapa kompleksna masalah hubungan manuia dalam konteks antar budaya, namun sekaligus menawarkan suatu kesempatan luar biasa besar bagi kemajuan kemanusiaan dan peraaban. Sementara bagi akademisi, hal tersebut merupakan persoalan baru yang sangat menarik untuk dikaji secara mendalam dalam kerangka ilmiah, khususna bagi cabang – cabang humaniora.

Psikologi sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan yang objek studinya adalah perilaku manusia tentu harus turut mengkaji dan mengembangkan ranah penelitiannya pada masalah ini pula, masalah manusia serta perilakunya dalam hubungan lintas budaya. Psikologi harus mengembangkan suatu pendekatan baru, pendekatan psikologi lintas budaya. Pengembangan pendekatan sebagai bagian dari proses tanpa henti membangun psikologi.





Sumber: PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA. EdisiRevisi. TriaDayakisni. SalisYuniardi (Hal 1 – 2).

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer