APLIKASI TEORI ATRIBUSI: PANDANGAN DAN INTERVENSI - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Senin, 15 Juni 2015

APLIKASI TEORI ATRIBUSI: PANDANGAN DAN INTERVENSI

Kumpulan MateriKurt Lewin, satu dari bapak psikologi sosial modern (Lihat Bab 1), sering mengatakan, “Teori yang terbaik adalah teori yang mempunyai sifat praktis,”. Maksdunya adalah, sekali kita memperoleh pemahaman tentang aspek - aspek perilaku atau cara berpikir social, kita bisa, dan sangat mungkin, memanfaatkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari – hari, misalnya teori atribusi. Sejalan dengan berkembangnya pengetahuan kita tentang atribusi, aplikasinya dalam menyelesaikan berbagai masalah praktis juga terus bertambah (Graham & Folkes, 1990). Berikut kita akan mempelajari dua aplikasi penting dari teori atribusi.


ATRUBUSI DAN DEPRESI. 

Depresi adalah gangguan psikologi yang paling umum. Diperkirakan setidaknya hamper separuh manusia di dunia pernah mengalami gangguan ini dalam hidupnya (misalnya dalam Blazer dkk., 1994) Meski ada banyak faktor yang berperan dalam depresi, satu yang belakangan banyak dikaji adalah kecenderungan pola atribusi untuk menyalahkan diri sendiri (self – defeating). Individu yang mengalami depresi cenderung menampilkan tingkah laku yang bertentangan dengan gejala bias mengutamakan diri sendiri seperti telah diuraikan sebelumnya. Mereka mengatribusi hasil – hasil negative dari perilaku mereka sebagai hal yang bersifat temporer dan berasal dari factor eksternal seperti nasib baik atau pertolongan orang lain (lihat 2.14). hasilnya, orang tersebut merasa tidak memiliki atau sedikit sekali, control atas hal – hal yang terjadi pada dirinya. Seperti debu yang tertiup angin. Tak heran mereka menjadi demikian depresi dan cenderung mudah menyerah dalam hidup.


Untung saja, kini berbagai teknik terapi yang bertujuan untuk mengubah atribusi seperti ini telah dikembangkan, dan tampaknya cukup sukses (misalnya dalam Bruder dkk., 1997, Rubinson, Berman, & Neiyemer, 1990). Bentuk terapi baru ini berusaha membuat orang yang depresi mengubah atribusinya untuk mulai member nilai tambah personal pada kesuksesan mereka, berhenti menyalahkan diri sendiri atas setiap kegagalan (terutama yang memang sulit dihindari), dan mencoba memandang beberapa kegagalan tersebut sebagai faktor eksternal yang berada di luar jangkauan mereka. Terapi seperti ini tidak mengeksplorasi lebih dalam tentang berbagai hal seperti kehendak yang terpendam, konflik pribadi, atau peristiwa – peristiwa traumatic yang terjadi semasa kecil, namun nyatanya cukup berhasil. Teori atribusi ternyata terbukti dapat mengilhami terciptanya teknik terapi baru.


ATRIBUSI DAN PRASANGKA: HARGA SOSIAL YANG MESTI DIBAYAR KETIKA MEMPERTANYAKAN DISKRIMINASI.

Bayangkan situasi ini: Anda bertemu seseorang yang berasal dari kelompok minoritas, dan tak lama kemudian dia bercerita pada Anda prasangka – yaitu karena dia berasal dari kelompok rasa tau suku tertentu. Kesan apa yang akan Anda berikan padanya? Prinsip – prinsip keadilan menyarankan kita untuk bersikap simpatik, karena prasangka jelas merupakan kontras dari berbagai berpikir bahwa dia keliru, dia benar – benar ditolak karena tidak memenuhi kualifikasi. Ketika anda sampai pada kesimpulan ini, Anda mungkin mendapat kesan negatif terhadapnya, memandang sebagai orang yang memang suka protes dan ingin menimpakan kegagalannya pada prasangka dan deskriminasi.


Kenyataannya teori atribusi menyatakan bahwa tampaknya kesimpulan yang terakhirlah yang lebih mungkin. Dalam berbagai keadaan, sulit untuk mengetahui apakah kegagalan yang dialami oleh kaum minoritas disebabkan oleh prasangka atau oleh factor lainnya. Karena ketidakpastian ini, ketika seseorang mengatribusi perilakunya pada prasangka, kita bisa jadi keliru.


Bukti atas efek ini telah diberikan ole beberapa studi (misalnya dalam Ruggiero dkk. 100), namun dari kesemuanya itu barangkali studi dari Kaiser dan Miller (2001) yang paling menggambarkan. Mereka meminta partisipan studinya untuk member peringkat mahasiswa Afro – Amerika (kulit hitam) yang setelah diberi tahu bahwa mereka gagal dalam tes, mengatribusi kegagalannya baik pada factor diskriminasi dari sebagian tim penilai (satu panel yang terdiri dari delapan orang), atau pada kualitas dari jawaban meerka. Partisipasi member penilaian kepada mahasiswa Afro Amerika ini pada skala mengeluh (sejauh mana ia bersikap hipersensistif, pengeluh, pembuat masalah, pendebat, dan sebagainya), dan pada kesan umum para partisipan padanya (seberapa menyenangkan, pertemanan, kejujuran, kecerdasan, dan kemudahan bergaul). Sebelum member peringkat, partisipan telah diberi tahu bahwa peluang terjadinya diskriminasi dapat menyebabkan penilaian yang keliru adalah rendah, sedang dan tinggi (tidak ada satu pun, separuh, atau semua penilaian semuanya sudah menunjukkan tanda – tanda prasangka terhadap orang Afro – Amerika).


Hasilnya sangat menarik. Di samping adanya kecenderungan bahwa diskriminasi memang berkontribusi terhadap skor yang buruk, partisipan member peringkat mahasiswa Afro – Amerika sebagai pribadi yang suka mengeluh serta member kesan lebih tidak menyenangkan ketika para mahasiswa Afro – Amerika itu mengatribusinya pada kemampuannya sendiri (lihat Gambar 2.15). Dengan kata lain, meskipun semua penilai telah sadar adanya kemungkinan melakukan prasangka, partisipan tetap member peringkat rendah mahasiswa minoritas yang mengatribusi kesalahannya pada factor diskriminasi ini.


Sebagai telah diungkap oleh Kaiser dan Miller (2001), temuan – temuan di atas mengidentifikasikan bahwa kekhawatiran dinilai negative oleh orang lain telah mencegah kaum minoritas mempersoalkan diskriminasi yang mereka alami: mereka khawatir bila melakukan itu mereka akan dicap sebagai tukang protes. Kita akan kembali membahas lebih lanjut tentang aspek – aspek dalam prasangka ini di Bab 6. Saat in ikita hanya akan member catatan pentingnya perspektif atribusi dan mencari cara menghindari efek yang merugikan dari prasangka.









Sumber: Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh. Robert A. Baron (Hal 61 – 63)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer