ALASAN ASESMEN - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Minggu, 12 Agustus 2012

ALASAN ASESMEN


Informasi yang telah dikumpulkan dalam asesmen klinis digunakan untuk menunjang keputusan – keputusan dan berbagai area tindakan, seperti penyaringan dan diagnosis, evaluasi dan intervensi, serta riset. Secara singkat, Korchin (1976), mengemukakan bahwa asesmen klinis ini dibutuhkan untuk membuat keputusan yang didasari informasi yang dapat diandalkan. Adapun alasan penyelenggaraan asesmen, menurut Kendall, adalah penyaringan dan diagnosis, evaluasi atau intervensi klinis yang telah dilakukan, dan riset.

Juga perlu mendapat tekanan bahwa suatu asesmen diselenggarakan dengan sasaran tertentu, sehingga alat yang digunakan pun terbatas sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini perlu diingat karena adanya tes atau asesmen kepribadian sering disalahartikan menjadi asesmen yang akhirnya pelaku asesmen mengetahui segala hal dari klien, termasuk yang tidak berhubungan dengan tujuan pemberian asesmen itu.

Yang akan dikemukakan adalah alasan asesmen secara umum yang terdiri atas tiga jenis atau macam maksud, sebagai berikut:

Penyaringan Dan Diagnosis
Fungsi penyaringan dalam asesmen meliputi kegiatan memilih dan mengelompokkan orang, menggunakan kemampuan klinikus untuk mengembangkan metode (asesmen), mengumpulkan dara, dan membuat keputusan yang canggih. Misalnya, untuk memudahkan seleksi dalam menentukan kecocokan orang bagi program intervensi spesifik. Maka asesmen dapat digunakan untuk memilih klien mana yang paling sesuai untuk mengikuti program penyembuhan baru yang telah dibangun di suatu rumah sakit.

Pengetahuan yang didapat dari asesmen klinis dapat juga digunakan untuk keperluan selanjutnya dengan maksud menentukan diagnosis yang akurat. Diagnosis mengidentifikasi masalah spesifik klien dan diarahkan pada usaha mengomunikasikan secara efisien informasi tentang individu tertentu kepada profesional lain, sehingga keputusan yang dibuat mengenai cara terbaik untuk melayani klien dibuat berdasarkan informasi yang akurat.

Asesmen klinis juga merupakan hal penting dalam menentukan jenis dan taraf gangguan jiwa secara hukum. Dalam hal ini yang disebut diagnonis adalah ditentukan atau ditemukannya proses terjadinya gangguan, dan termasuk kelompok atau jenis apakah penyakitnya itu. Dengan diangnosis itu, pengadilan dapat menentukan hukuman apa yang dapat dan efektif diberikan kepada seorang terdakwa. Jadi, dasar pertimbangan tidak semata – mata obyektif dan berlaku umum, karena hukuman antara lain dimaksudkan agar terhukum tidak melakukan kesalahan, antara lain yang sama, di kemudian hari.

Evaluasi Atas Intervensi Klinis
Tanpa asesmen, klinikus pada umumnya tidak dapat mengevaluasi efek intervensi klinis. Data dapat dihimpun melalui asesmen untuk menentukan kekuatan, kelemahan, dan keparahan permasalahan psikologis klien, pada sebelum, saat, dan setelah intervensi diselenggarakan. Misalnya, klien yang mengalami depresi karena perceraian, dapat diases mengenai berapa besar tingkat keparahan depresi atau kecemasannya itu, tetapi, setelah ulang untuk melihat adakah peringanan gangguan sebagai akibat diberikannya penganggulangan yang telah dilakukan dan apakah saat ini ia boleh melakukan rawat jalan.

Dalam melaksanakan salah satu peranannya sebagai “mental tester” psikolog klinis dapat menerima permintaan psikiater untuk melaksanakan asesmen kepada kliennya, untuk menentukan apakah pasiennya sudah dapat dinyatakan sembuh dan boleh meninggalkan rawat inap atau belum. Namun, perlu juga dikemukakan, bahwa dalam situasi tersebut, seorang prikiater tetap bertanggung jawab atas tingakannya menahan atau memulangkan pasiennya. Saran psikolog hanya salah satu pertimbangan saja, bukan satu – satunya.

Riset
Hal yang sangat esensial bagi semua kegiatan riset adalah asesmen atas perubahan – perubahan (variables) yang digunakan dalam investigasi. Dalam riset, asesmen dimaksudkan untuk menguji hipotesis yang spesifik dalam menangani baik perilaku normal maupun abnormal atau mengalami disfungsi psikologis, dan dirancang untuk mendapatkan informasi baru yang dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai pemfungsian manusia. Misalnya, efek pornografi terhadap kejadian perkosaan atau moralitas komunitas tidak dapat ditentukan kalau kita tidak mengases semua pengubah yang terlibat.

Riset juga digunakan untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan instrumen asesmen yang ada, dan mengembangkan metode asesmen baru yang dapat digunakan di kemudian hari (Kendali, 1982).

Terdapat perbedaan yang tidak begitu esensial tetapi penting dalam membedakan riset dalam psikologi klinis dengan riset dalam psikologi abnormal atau psikopatologi. Secara kasar, sebagai misal, dapat dikemuakakn bahwa dalam riset psikologi abnormal atau psikopatologi, kegiatan riset yang dilakukan memakai metode induktif dengan maksud membangun kaidah – kaidah mengenai segala hal yang menjadi wilayah cabang ilmu ini, misalnya mengenai sebab umum gangguan atau hubungan antara timbul dan berkembangnya suatu gangguan jiwa dengan kultur suatu komunikasi tertentu. Sementara dalam psikologi klinis, riset dilakukan dengan metode deduktif mengenai faktor dan perubahan apa saja yang terjadi dalma suatu gangguan atau seberapa jauh efek dari suatu terapi tertentu berhasil dalam menangani gangguan tertentu pada orang – orang dari lapisan atas, menengah, atau bawah, maka dalam psikologi klinis tujuannya adalah menguji efektifitas penggunaan kaidah – kaidah tersebut.

Satu lagi alasan diselenggarakan asesmen klinis adalah untuk menyajikan kepada seseorang, informasi mengenai dirinya sendiri, sehingga dapat membuat keputusan bagi diri mereka sendiri. Misalnya, keterangan mengenai apa sebabnya seorang klien merasa kurang tentram. Pemeriksaan dalam rangka asesmen kadang – kadang memadai bagi individu untuk memahami kondisinya sendiri, dan pengetahuan akan masalah diri sendiri ini bisa jadi akan mengurangi atau bahkan menghilangkan penderitaannya.




Sumber: Pengantar Psikologi Klinis. Edisi revisi. Prof. Dr. SUTARDJO A. WIRAMIHARDJA, Psi. (Hlm. 67 – 69).

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer