Breaking News
Loading...
Selasa, 14 Agustus 2012

MODEL GANGGUAN PSIKOLOGIS


Pada kenyataannya, banyak sekali macam gangguan yang dialami pasien atau klien yang kalau diketahui secara teoritis, bahkan menjadi tidak terbatas, bahkan menjadi tidak terbatas jumlahnya. Setiap pasien atau klien memiliki ciri yang khas, yang penyembuhannya memerlukan penanganan sendiri. Hal demikian tidak mengherankan karena secara teoretik, psikologi abnormal dan psikologi klinis mempunyai sumber utama berupa psikologi atau studi kepribagian. Klien atau psien adalah seseorang dengan kepribagian yang terganggu, ia adalah orang terganggu, bukan sekedar gangguan. Oleh karena itu, setiap gangguan akan tampil khas.

Tentu saja, dengan cara berpikir khas semacam itu akan sangat sukar bagi seorang profesional untuk secara konseptual memahami dan menangani gangguan psikologis ini. oleh karena itu, para ilmuwan mengembangkan cara berpikir awam yang mencoba untuk mengelompokkan gangguan tersebut dalam berbagai jenis gangguan. Landasarn pengelompokkan itu bermacam – macam. Ada yang berdasarkan bagian atau aspek apa yang terganggu, sesuai dengan prodisposisi kepribagian, dan lain – lain.

Gangguan psikologis juga dapat dikelompokkan berdasarkan model, yaitu struktur teoritis yang bersifat tentatis yang digunakan untuk mengurai dan menjelaskan disfungsi psikologis atau perilaku abnormal itu. Model adalah suatu analogi konseptual yang memiliki kualitas “seandainya”, yang membimbing pemikir kita mengenal perangkat kejadian tertentu. Misalnya, komputer dapat digunakan sebagai model otak karena dapat digambarkan berfungsi sebagai apa yang dilakukan komputer. Secara  ideal, model membantu klinikus dengan cara, (10 mengidentifikasi pengubah atau kejadian yang memerlukan telaah lanjutan atau pendalaman, (2) menyediakan suatu konteks yang dapat mengintegrasikan informasi, dan (3) menduga spesifikasi hubungan antara pengubah dan kejadian yang akurat.

Banyak model psikologi atau perilaku abnormal diajukan para ahli, termasuk model kultural, model sistem, model eksistensial, model genetik, model humanistik, model belajar, mode medis, model moral, model psikodinamik, dan lain – lain. Dari sekian banyak model tersebut, terdapat empat model yang paling banyak digunakan orang yaitu model medis, model dinamik, model belajar, dan model sistem.

Model Medis
Model ini sering juga disebut model penyakit atau model organik. Menurut konseptualisasi model ini, perilaku abnormal bersangkutan dengan kelemahan fisik (simptom patologis) dilihat sebagai akibat dari penyakit, kekuarangan dan kelemahan biologis/kimiawi. Banyak psikoater menggunakan model medis, meskipun model yang modern mulai lebih melirik perspektif belajar. Inti dari model medis adalah adanya hubungan antara suatu gejala dengan sebab tertentu. Misalnya paresis umum, ialah infeksi sifilitik pada kortek serebral, sebagai penyebab sifilis dan penyakit fisik tertentu yang disebabkan oleh kelemahan dan kerusakan psikologis tertentu.
Model medis ini, sering juga disebut medical orientation, yakni orientasi yang menyatakan bahwa gangguan kejiwaab mempunyai landasan biologis, termasuk fisik, syaraf, dan organik. Orientasi ini didasarkan pada salah satu pendekatan psikologi, yakni pendekatan biologis atau psikologi biologis, yang dalam terapannya antara lain muncul dalam pemahaman yang terutama menyangkut psikologis klinis, yaitu psikologi medis. Istilah psikologi medis ini merupakan nama lain (dengan pendekatan khusus, medis) untuk psikologi. Pertama kali istilah psikologi medis ini dikemukakan pada tahun 1941 oleh Zilboorg dan Henry (Trull, 2005).
Model Psikodinamik
Model ini berkembang terutama berdasarkan pendapat seorang psikoanalitik, Sigmund Freud atau mereka yang menjadi pengikutnya. Ada beberapa asumsi dasar dalam model psikodinamik ini, yaitu:
1.       Proses pikiran tak sadar memainkan peranan sentral dalam menentukan perilaku (abnormal).
2.       Tiga agen psikologis, yaitu id, ego ,dan  superego berinteraksi bilamana konflik psikologi harus diselesaikan.
3.       Pemfungsian yang dewasa ditentukan oleh keefektifan (re)solusi konflik pada beberapa taraf perkembangan psikoseksual.
4.       Konflik psikologis membawa orang pada keadaan cemas, di mana ego berusaha mereduksinya dengna memanfaatkan mekanisme pertahanan diri yang tidak sadar.
Proses ketidaksadaran sebagai penentuan perilaku didasarkan pada pembagian pengalaman manusia ke dalam tiga tipe, yaitu:
1.       Pengalaman sadar, terjadi saat manusia berada dalam keadaan sadar.
2.       Bawah sadar atau prasadar, termasuk pikiran, gagasan, dan ingatan yang dimiliki orang, tetapi tidak terjadi dalam kesadaran.
3.       Ketidaksadaran yang meliputi ingatan, ketakutan, impuls, dan harapan yang jarang ada pada orang yang sedang berada pada keadaan sadar.
Material ini terpikir sebagai hal yang secara psikologi menyakitkan, yang akibatnya tidak mudah untuk diangkat ke alam sadar. Gangguan lebih ditekankan sebagia akibat dari pengalaman masa kecil yang menyakitkan sehingga menjadi model cara orang yang bersangkutan berperilaku ketika telah dewasa.
Model Belajar
Model belajar menganggap bahwa gangguan perilaku terjadi karena pengalaman salah belajar (faulty learning). Yang dimaksud dengan salah satu belajar ini adalah:
  1. Mempelajari dengan benar contoh perilaku yang tidak baik, atau 
  2. Mempelajari dengna salah contoh perilaku yang baik.

Dalam model belajar ini, yang terutama dipelajari adalah perilaku sosial (Illmann dan Krasner, 1975). Faktor Faali sebagai faktor penyebab perilaku salah dilihat sebagai faktor kedua dalam kebanyakan kasus.

Dibandingkan dengan model – model lain, model belajar memusatkan diri pada perilakunya itu sendiri daripada terhadap proses konflik internal atau faktor – faktor faali yang mempengaruhi perilaku. Melalui perilaku aktual yang pasti, model belajar memungkinkan untuk menggunakan prinsip motode ilmiah dengan asumsi yang lebih sedikit daripada model lain. Model belajar pun dapat menjadi prinsip terbentuknya perilaku maladaptif dalam usaha mengubah perilaku maladaptif menjadi adaptif.

Model Sistem
Para teoritikus di bidang sistem menggunakan konsep – konsep ilmu kealaman (terutama biologi), proses informasi (terutama “ilmu” komputer), dan sosial (terutama antropologi) untuk mengkonseptualisasikan interaksi manusia, baik adaptif maupun disfungsi, sebagai komponen dalam sistem sosial. Jejaring sosial , seperti keluarga atau kelompok pertemanan dilihat sebagai pola interaksi yang bergerak statis atau berulang untuk memelihara keseimbangan (equilibrium) yang memaksimalkan perubahan jejaring untuk bertahan. Setiap perubahan, baik dari dalam maupun luar jejaring, baik yang bersifat konstruktif maupun destruktif, mengancam “hoemeostatic equilibrium”. Jejaring berfungsi memantau mekanisme kemungkinan terjadinya simpangan dari pola yang telah terbangun, melalui umpan balik.

Dihubungkan dengan sistem model, disfungsi psikologis terjadi dalam dua bentuk berikut, (1) jika orang harus berpikir, merasa, atau bertingkah laku dalam situasi psikologis dan fisik yang mengancam atau cara yang menyakitkan agar sesuai dengan jejaring sosial, dan (2) jika orang berusaha untuk mengubah peran atau interaksinya dalam jejaring sosialnya tanpa kekuatan dan keterampilan yang memadai untuk menanggulangi kekuatan inter jejaring sosial.

Sebagai contoh, seorang yang menderita gangguan skiziofrenia, menurut Bateson dkk. (1956), telah mengembangkan pola pikir dan perilaku yang kacau karena keluarganya menciptakan sistem “double bind”, ialah mempelajari dua pedoman yang bertentangan sekaligus pada waktu yang sama.




Sumber: Pengantar Psikologi Klinis. Edisi revisi. Prof. Dr. SUTARDJO A. WIRAMIHARDJA, Psi. (Hlm. 51 – 54)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer