Breaking News
Loading...
Kamis, 02 Agustus 2012

PSIKOLOGI SEBAGAI BAGIAN DARI FILSAFAT

Pada zaman sebelum Masehi, jiwa manusia sudah menjadi topik pembahasan para filsuf. Saat itu, para Filsuf sudah membicarakan aspek – aspek kejiwaab manusia dan mereka mencari dalil, pengertian, serta berbagai aksioma umum, yang berlaku pada manusia.

Ketika itu, psikologi memang sangat dipengaruhi oleh cara – cara berpikir filsafat dan terpengaruh oleh filsafatnya sendiri. Hal tersebut dimungkinkan karena pada ahli psikologi pada masa itu adalah juga ahli – ahli filsafat atau para ahli filsafat waktu itu juga ahli psikologi.

Sebelum tahun 1879, jiwa dipelajari oleh para filsuf dan para ahli ilmu faal (fisiologi), sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari kedua ilmu tersebut (Fauzi, 1977 ; 14). Selain pengaruh dari ilmu faal, psikologi juga dipengaruhi oleh satu hal yang tidak sepenuhnya berhubungan dengan ilmu faal, meskipun masih erat hubungannya dengan ilmu kedokteran, yaitu hipnotisme(Dirgagunarsa, 1996 : 36). Menurut Singgih Dirgagunarsa, hipotisme timbul karena adanya kepercayaan bahwa dalam alam ini terdapa kekuatan – kekuatan yang misterius, yaitu magnetisme. Paracelsus (1493 – 1541), seorang ahli mistik, menunjukkan bahwa dalam tubuh manusia terdapat magnet yang sama halnya dengan binatang – binatang di langit dapat mempengaruhi tubuh manusia melalui pemancaran yang menembus angkasa. Dalam hubugan itu, Van Helmont (1577 – 1644) mengemukakan doktrin Animal magnetism, yaitu “Cairan yang bersifat magnetis dalam tubuh manusia dapat dipancarkan untuk mempengaruhi badan, bahakan jiwa orang lain” (Dirgagunarsa, 1996:36).

Para ahli filsafat kuno, seperti Plato (429 – 347 SM) dan Aristoteles (384 – 322 SM), telah memikirkan hakikat jiwa dan gejala – gejalanya. Pada zaman kuno, tidak ada spesialisasi dalam lapangan keilmuan, sehingga boleh dikatakan bahwa semua ilmu tergolong apa yang disebut filsafat itu. Sementara ahli filsafat ada yang mengatakan bahwa filsafat adalah induk ilmu pengetahuan. Sebagai induk ilmu pengetahuan, filsafat adalah ilmu yang mencari hakikat sesuatu dengan menciptakan pertanyaan dan jawaban secara terus – menerus, sehingga mencapai pengertian yang hakiki tentang sesuatu. Masa itu belum ada pembuktian  - pembuktian empiris, melainkan berbafai teori dikemuakan bagian dari filsafat dalam antri yang sebenarnya.

Filsafat itu sendiri dari bahasa Yunani, philesophia, dan philos, cinta; atau philia, persahabatan, kasih sayang, kesukaan pada, keterkaitan pada, + sophos, orang bijak; atau sophia, kebijakan, pengetahuan, keahlian atau pengalaman praktis, inteligensi. Bakry (1971 : 11) mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mengadakan mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia, sehingga menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikat dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia telah mencapai pengetahuan itu.

Pada abad pertengahan, psikologi masih merupakan bagian dari filsafat, sehingga objeknya tetap hakikat jiwa, sementara metodenya masih menggunakan argumentasi logika.

Uraian oleh para filsuf abad pertengahan umumnya berkisar seputar ketubuhan dan kejiwaan. Berbagai pandangan mengenai ketubuhan dan kejiwaan dapat digolongkan dalam dual hal, yaitu (Dirgagunarsa, 1996 : 17):
  1. Pandangan bahwa antara ketubuhan dan kejiwaan (antara aspek psikis dan fisik) tidak dapat dibedakan karena merupakan suatu kesatuan.  Pandangan ini disebut Monism.
  2. Pandangan bahwa ketubuhan dan kejiwaan pada kahikatnya dapat berdiri sendiri, meskipun disadari bahwa antara kejiwaan dan ketubuhan merupakan suatu kesatuan. Ini disebut dualism.

Tokoh – tokoh abad pertengahan, antara lain: Rene Descrates (1596 – 1650) yang terkenal dengan teori tentang kesadaran,Gottfried Wilhelm Leibniz (1646 – 1716), yang mengutarakan teori kesejajaran psikofhisik (psychophysical paralellism), John Locks (1932 – 1704) dengan teori tabula rasa.





Sumber: Psikologi Umum. Drs. Alex Sobur, M. Si. (Hlm. 73 – 74).

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Toggle Footer