KOGNISI DAN KOMPLEKSITAS EMOSI - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Selasa, 28 Agustus 2012

KOGNISI DAN KOMPLEKSITAS EMOSI


Kognisi dan fisiologis merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam pengalaman dari emosi. Kognisi dan fisiologis adalah Yin dan yang dari hasrat manusia. Kedua hal tersebut saling mempengaruhi satu sama lain secara terus menerus: Kognisi mempengaruhi emosi dan kondisi emosi mempengaruhi kognisi (Gray, 2004). Sebagian contoh, menyalahkan seseorang atas masalah yang anda hadapi akan menyebabkan anda merasa marah, dan begitu anda merasa marah, anda akan semakin terdorong untuk memikirkan hal – hal negatif tentang orang lain.

Beberapa emosi hanya membutuhkan kognisi yang minimal dan sederhana atau merupakan perasaan primitif yang muncul pada alam bawah sadar (Winkielman dan Berridge, 2004). Respons setimental yang terkondisi terhadap simbol – simbol patriotik, respons jijik yang terkondisi terhadap seekor cacing, dan perasaan yang bersahabat terhadap seseorang yang familiar, merupakan reaksi sederhana yang tidak disadari (lzard, 1994a; Murphy, Monahan, dan Zajonc, 1995). Emosi – emosi primitif yang terdapat pada bayi tidak memiliki banyak kecanggihan mental semacan itu: “Hey, saya marah, karena tidak ada seorang pun yang memberikan susu kepada saya!”

Sejala dengan perkembagan cerebral cortex pada anak, kognisi dan emosi akan menjadi lebih kompleks: “Hey, saya marah karena situasi ini sangat tidak adil!” Beberapa emosi bergantung sepenuhnya pada perkembangan kedewasaan dari kapasitas kognisi yang lebih tinggi. Sebagian contoh, perasaan malu dan bersalah pada anak – anak tidak akan muncul hingga anak berkembang malaui hidup Infoncy, karena emosi – emosi ini memerlukan keberadaan konsep mengecewakan orang lain (Baumeister, Stillwell, dan Heatherton, 1994; Tangney dkk, 1996).

Akibat adanya penrgeseran yang konstan pad akognisi kita saat kita berinteraksi dengan orang lain, emosi kita juga mengalami perubahan serupa. Hal ini merupakan salah satu penyebab rumitnya respons emosional dalam kehidupan nyata. Richard Lazarus (2000a) mendeskripsikan pertengkaran yang terjadi antara sepasang suami istri saat sarapan. Sang istri tidak membuatkan jus segar seperti biasanya, dan saat sang suami menanyakan hal itu, sang istri (yang merasa kesal karena suaminya pulang pada malam sebelumnya dengan mood yang tidak menyenangkan), mengatakan pada suaminya, “You can make your own (bikin saja sendiri). Sang suami merasa tersinggung dan meninggalkan meja makan dengan mendongkol, yang membuat istrinya. Saat itulah sang istri menyadari alasan suaminya menjadi sangat menyendiri pada malam sebelumnya. Ia dipenuhi perasaan bersalah, dan kemudian meminta maaf atas perilakunya.

Perhatian betapa banyak emosi yang muncul dan menghilang selama interaksi yang singkat tersebut, bergantung pada pemikiran yang terjadi baik pada suami maupun pada istri marah, rasa bersalah, kecemasan, sakit hati, dan empati. Saat suami atau istri tersebut merasa pasangannya marah, saat masing  - masing memahami  alasan perilaku pasangan mereka, kemarahan tersebut sirna.

Fakta – fakta yang menunjukkan bahwa berpikir dapat mempengaruhi emosi menunjukkan suatu hal yang mengesankan. Saat seseorang berada dalam kondisi emosi yang tidak menyenangkan, mereka dapat mengubah perasaan tersebut, dengan menganalisis ulang situasi dan persepsi mereka terhadap situasi tersebut (Gross dan John, 2003). (Seperti yang akan C pada mata kuliah biologi, benarkah dunia akan kiamat? Benarkah tidak ada seseorang pun yang mencintai anda? Benarkah anda ditakdirkan hidup melajang selamanya? Bila suatu waktu anda mendapai anda berpikir semacam itu, ujilah pikiranmu tersebut secara kritis: Adakah bukti – bukti yang mendukung atau menentangnya? Pada kasus – kasus tersebut, emosi bukanlah faktor yang menghambat kemampuan berpikir kritis. Kegagalan berpikir kritislah yang menciptakan emosi – emosi tersebut!

Pengalaman emosional yang bersifat pribadi kemudian dikombinasikan dengan pikiran dan tubuh, namun masih ada satu bagian dari pohon emosi yang hilang. Pikiran dapat mempengaruhi emosi, namun dari manakan pikiran – pikiran tersebut berasal? Seorang pria yang menari diatas meja sebuah restoran dengan memakai tutup lampu dikepalanya akan dipandang “memalukan” demikian pula seorang wanita yang berjalan di jalanan umum tanpa menutupi bagian dadanya juga dipandang “memalukan” berasal? Apabila anda memukul tembok saat sedang marah, dari manakan anda belajar mengekpresikan perasaan anda dengan cara tersebut? Untuk dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut, kita akan beralih pada aspek utama yang ketiga dari pengalaman emosional: peran budaya .




Sumber: Psikologi, edisi kesembilan, jilid 2. Carole Wade. Carol Travris (Hlm: 125 – 126)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer